Sunday, August 11, 2019

MEMAHAMI MAKNA QURBAN DARI SUDUT PANDANG HAKIKAT

Oleh: Syansanata Ra
(Yeddi Aprian Syakh al-athas)

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Mumpung masih dalam suasana Hari Raya ‘Iedul Adha maka kali ini izinkan saya untuk berbagi kajian tentang pemaknaan QURBAN dari sudut pandang hakikat.

Boleh ya... Diizinkan ya... ๐Ÿ™☺️

Untuk itu sebelum kita melanjutkan kajian ini, maka ada beberapa catatan kecil yang perlu kita sepakati terlebih dulu...


  1. Kajian ini cukup panjang, tetapi bisa disave untuk dibaca kapanpun jika sudah memiliki waktu luang. Tetapi jika dibaca tuntas maka tentunya akan semakin bermanfaat.
    Ada sebuah nasehat penuh makna dari leluhur kita di masa lalu tentang betapa pentingnya membaca tulisan apapun secara tuntas, “Yen ngewacen lontar de san nenga-nenga, nyanan tul patintul pepinehรฉ” (Jika membaca tulisan janganlah setengah-setengah, karena hanya akan memberikan interpretasi yang prematur).
  2. Kajian ini disarikan dari berbagai sumber baik sumber referensi ilmiah ataupun sumber referensi spiritual seperti diskusi lahiriah dan diskusi batiniah.
  3. Kajian ini merupakan ijtihad pemikiran semata, jika benar adanya maka kebenaran itu datangnya hanya dari Tuhanmu Yang Maha Benar (Al-Haqqu min Rabbika, fa Laa takuunanna minal mumtariin). Tetapi jika didalamnya terdapat kesalahan atau kekeliruan, maka kesalahan dan kekeliruan tersebut datangnya semata dari diri saya pribadi, dan saya membuka pintu koreksi yang sebesar-besarnya demi untuk kesempurnaan kajian ini.


Jika Anda setuju dengan beberapa catatan kecil di atas mari kita lanjutkan, dan jika Anda tidak setuju maka disarankan untuk berhenti sampai disini...

Nah untuk yang setuju, mari kita mulai...

Istilah QURBAN yang selama ini banyak dipakai oleh ummat Islam di Indonesia, sebenarnya memiliki makna yang sangat luas, dan menjadi tidak tepat jika istilah ini kemudian digunakan untuk menyebut Hari Raya ‘Idul Adha sebagai ‘IDUL QURBAN, karena secara bahasa, istilah QURBAN tidak hanya dimaknai dalam bentuk hewan saja, tetapi juga bisa dimaknai dalam bentuk hasil pertanian, makanan, minuman atau yang lainnya. Sementara prosesi ‘Idul Adha mesti dilakukan dengan hewan tertentu, disembelih pada waktu tertentu dan disesuaikan dengan tuntunan tertentu sebagaimana kaidah-kaidah syari’at yang berlaku.

Dalam pemakaiannya, istilah QURBAN ini justru malah banyak dipakai oleh penganut agama lain, yang dimaksud untuk beberapa tujuan. Misalnya, Pertama, sebagai persembahan atau yang populer disebut dengan istilah “sesajen” atau “sembahan”. Kedua, sebagai washilah, yaitu sarana/alat untuk mendekatkan atau mempertemukan hajat tertentu kepada Tuhan. Dari sini kemudian lahir istilah-istilah seperti korban persembahan, korban bakaran, korban urapan, korban curahan, korban sembelihan dan istilah sejenis Iainnya, asal jangan korban perasaan aja ya. ๐Ÿคญ Ketiga, sebagai tebusan, yaitu membayar kesalahan alias denda, misalnya karena melanggar aturan atau norma-norma yang ditetapkan oleh agama.

Meskipun secara bahasa, QURBAN itu tidak mesti dilakukan dengan hewan sembelihan, namun ummat Islam di Indonesia rupanya tetap memaknai QURBAN secara khusus sebagai hewan yang akan disembelih pada saat hari raya ‘ldul Adha. Beberapa sumber referensi menyebutkan bahwa istilah QURBAN atau ‘IDUL QURBAN yang diserap ke dalam bahasa Indonesia pada mulanya terpengaruh oleh dialektika orang Persia. Disana ‘Idul Adha populer disebut sebagai “EYDE GHORBAN” atau “IED QORBAN”. Istilah inilah yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘IDUL QURBAN. Hal ini dapat dimaklumi mengingat jalur penyebaran Islam di Indonesia memang banyak terpengaruh oleh dialektika Persia.

Catatan tambahan:
Teori masuknya Islam dari Persia didasarkan pada asumsi adanya kesamaan pada sejumlah tradisi keagamaan antara Persia dan Indonesia, yakni diantaranya: Peringatan Hari ‘Asyura (10 Muharam), permulaan ahlul bait dari keluarga Ali bin Abi Thalib ra, dan sistem mengeja huruf Arab dalam pengajaran Al-Quran khas Persia untuk menyebut tanda bunyi harakat seperti jabar (vokal “a” atau fathah), jer atau zher (vokal “i” atau kasrah) dan pes atau fyes (vokal “u” atau dhammah).
Pendukung Teori ini diantaranya: P.A Hoesein Djadjadiningrat, Robert N. Bellah, Prof. A. Hasjmi, Prof. Aboe Bakar Atjeh dan Ph.S Van Ronkel.

Nah berangkat dari penjelasan ini, maka kajian saya ini pun akhirnya harus ikut-ikutan latah menggunakan istilah QURBAN. Gak apa-apa kan? ☺️

Nah sekarang yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana Islam memaknai istilah QURBAN ini ...?!

Setelah melakukan penelusuran dari berbagai literatur, rupa-rupanya Islam sendiri menggunakan diksi kata yang beragam untuk menyebut istilah QURBAN ini.

Pertama: QURBAAN (ู‚ُุฑْุจَุงู†ًุง)

Kata QURBAN disebut dalam Al-Quran sebanyak dua kali dan dalam dua ayat yg berbeda, diambil dari kata “Qariba - Yaqrabu - Qurban wa Qurbanan” yang berarti dekat atau mendekati.
( Ibnu Manzhur: 1992:1:662; dan Munawir:1984:1185 )

ูˆَุงุชْู„ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู†َุจَุฃَ ุงุจْู†َูŠْ ุขุฏَู…َ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ุฅِุฐْ ู‚َุฑَّุจَุง ู‚ُุฑْุจَุงู†ًุง ูَุชُู‚ُุจِّู„َ ู…ِู†ْ ุฃَุญَุฏِู‡ِู…َุง ูˆَู„َู…ْ ูŠُุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†َ ุงู„ْุขุฎَุฑِ ู‚َุงู„َ ู„َุฃَู‚ْุชُู„َู†َّูƒَ ۖ ู‚َุงู„َ ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุชَู‚َุจَّู„ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู†َ

“Dan ceritakanlah yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika (keduanya) QARRABA (mendekatkan) QURBAAN (hewan qurban), maka (qurban) salah seorang dari mereka berdua diterima dan yang lainnya tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, Sungguh, aku pasti membunuhmu! Dia (Habil) berkata, Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa."
( QS. Al-Maidah 5:27 )

ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‚َุงู„ُูˆุง ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู‡ِุฏَ ุฅِู„َูŠْู†َุง ุฃَู„َّุง ู†ُุคْู…ِู†َ ู„ِุฑَุณُูˆู„ٍ ุญَุชَّู‰ٰ ูŠَุฃْุชِูŠَู†َุง ุจِู‚ُุฑْุจَุงู†ٍ ุชَุฃْูƒُู„ُู‡ُ ุงู„ู†َّุงุฑُ

“(Yaitu) orang-orang (Yahudi) yang berkata, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami agar kami tidak beriman kepada seorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami BI-QURBAAN (hewan qurban) yang dimakan api...”
( QS. Ali Imran 3:183 )

Kedua: DHAHHA (ุถุญู‰)

Aktifitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut al-ADH-HA, diambil dari kata “Dhahha – Yudhahhi – Tadh-hiyatan” yang berarti menyembelih.

Adapun Hewan sembelihannya lebih dikenal sebagai ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ (al-udhiyah), diambil dari kata ุฃَุถْุญَู‰ (adh-ha), bentuk jamaknya adalah Al-Adhaahiy.

Makna ุฃَุถْุญَู‰ (adh-ha) sendiri adalah waktu permulaan siang setelah terbitnya matahari yang selama ini sering kita gunakan untuk nama sholat dhuha.

Adapun ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ (al-udhiyah) menurut syariat adalah sesuatu yang disembelih dari binatang ternak pada hari ‘Iedul Adha dan hari Tasyriq (waktu dhuha) dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
( Kitab Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366 )

Oleh karena itu hari penyembelihannya disebut sebagai YAUMUL ‘IEDUL ADHA.

Ketiga: An-NAHR (ุงู„ู†ุญุฑ)

Aktifitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut An-NAHR, diambil dari kata “nahara – yanhuru – nahran” yang berarti menyembelih hewan pada bagian LABBAH (leher bagian bawah).

Cara ini umumnya untuk menyembelih Unta yang memiliki leher yang panjang.

ูَุตَู„ِّ ู„ِุฑَุจِّูƒَ ูˆَุงู†ْุญَุฑْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah (dengan cara NAHR).”
( QS. Al Kautsar 108:2 )

An-NAHR secara harfiah dapat juga bermakna “anhara ad-damma” yang berarti mengalirkan darah.

Dari ‘Abayah bin Rifa’ah dari kakeknya, bahwasanya ia berkata,
“Wahai Rasulullah, kami tidak mempunyai pisau.”
Maka beliau saw bersabda:

ู…َุง ุฃَู†ْู‡َุฑَ ุงู„ุฏَّู…َ ูˆَุฐُูƒِุฑَ ุงุณْู…ُ ุงู„ู„ู‡ِ ูَูƒُู„ْ، ู„َูŠْุณَ ุงู„ุธُّูُุฑَ ูˆَุงู„ุณِّู†َّ ุฃَู…َّุง ุงู„ุธُّูُุฑُ ูَู…ُุฏَู‰ ุงู„ْุญَุจَุดَุฉِ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ุณِّู†ُّ ูَุนَุธْู…ٌ

“(Alat) apa saja yang dapat ANHARA ad-DAMA (mengalirkan darah) dan disebut Nama Allah (pada saat menyembelih) maka makanlah (sembelihan itu), asalkan tidak menggunakan kuku dan gigi. Aku beritahu kalian, adapun gigi, ia adalah tulang, sedangkan kuku adalah pisau orang Habasyah.”

( Shahiih al-Bukhari No. 5503, IX/631, Shahiih Muslim No. 1968, III/ 1558, Sunan Abi Dawud no. 2804, VIII/17, Sunan at-Tirmidzi no. 1522, III/25, Sunan an-Nasa-i VII/226, Sunan Ibni Majah II/1061, no. 3178 )

Oleh karena itu, hari raya qurban juga disebut sebagai YAUMUN NAHR.

Keempat: Adz-DZAB-HA (ุงู„ุฐุจุญ)

Aktifitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut DZABH-HA, diambil dari kata “dzabaha – yadzbahu – dzabhan” yang berarti menyembelih hewan pada bagian HALQI (leher bagian atas).

Cara ini umumnya untuk menyembelih hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau, ayam, bebek, dll.

ูˆَุฅِุฐْ ู‚َุงู„َ ู…ُูˆุณَู‰ ู„ِู‚َูˆْู…ِู‡ِ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَุฃْู…ُุฑُูƒُู…ْ ุฃَู†ْ ุชَุฐْุจَุญُูˆุง ุจَู‚َุฑَุฉً

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu TADZBAHUU (menyembelih dengan cara DZABH-HA) seekor sapi betina….."
( QS. Al Baqarah 2:67 )

ูˆَูَุฏَูŠْู†َุงู‡ُ ุจِุฐِุจْุญٍ ุนَุธِูŠู…ٍ

“Dan Kami ganti ia (Ismail) dengan seekor DZIBHIN (hewan sembelihan) yang besar.”
( QS. Ash-Shaffat 37:107 )

Imam Thabari ra berpendapat bahwa DZIBHIN yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah seekor Domba besar milik Habil, putra Nabi Adam as, yang Allah simpan di surga.
( Kitab Tasfir ath-Thabari, 4/ 380 )

Baik Sapi Betina ataupun Domba keduanya termasuk jenis hewan yang disembelih dengan cara DZABH-HA.

Kelima: An-NUSUK (ุงู„ู†ุณูƒ)

Aktifitas menyembelih Hewan Qurban juga disebut An-NUSUK, diambil dari kata “nasaka – yansuku – nusukan” yang berarti menusuk.

ูَู…َู†ْ ูƒَุงู†َ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ู…َุฑِูŠุถًุง ุฃَูˆْ ุจِู‡ِ ุฃَุฐًู‰ ู…ِู†ْ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูَูِุฏْูŠَุฉٌ ู…ِู†ْ ุตِูŠَุงู…ٍ ุฃَูˆْ ุตَุฏَู‚َุฉٍ ุฃَูˆْ ู†ُุณُูƒٍ

“ … jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka (wajiblah atasnya) berfidyah, (yaitu) berpuasa atau bersedekah atau NUSUKI (berqurban dengan cara NUSUK).”
( QS. Al Baqarah 2:196 )

ุฎَุทَุจَู†َุง ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْุฃَุถْุญَู‰ ุจَุนْุฏَ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَู‚َุงู„َ ู…َู†ْ ุตَู„َّู‰ ุตَู„َุงุชَู†َุง ูˆَู†َุณَูƒَ ู†ُุณُูƒَู†َุง ูَู‚َุฏْ ุฃَุตَุงุจَ ุงู„ู†ُّุณُูƒَ ูˆَู…َู†ْ ู†َุณَูƒَ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูˆَู„َุง ู†ُุณُูƒَ ู„َู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ุฃَุจُูˆ ุจُุฑْุฏَุฉَ ุจْู†ُ ู†ِูŠَุงุฑٍ ุฎَุงู„ُ ุงู„ْุจَุฑَุงุกِ ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ ูَุฅِู†ِّูŠ ู†َุณَูƒْุชُ ุดَุงุชِูŠ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉِ ูˆَุนَุฑَูْุชُ ุฃَู†َّ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ูŠَูˆْู…ُ ุฃَูƒْู„ٍ ูˆَุดُุฑْุจٍ ูˆَุฃَุญْุจَุจْุชُ ุฃَู†ْ ุชَูƒُูˆู†َ ุดَุงุชِูŠ ุฃَูˆَّู„َ ู…َุง ูŠُุฐْุจَุญُ ูِูŠ ุจَูŠْุชِูŠ ูَุฐَุจَุญْุชُ ุดَุงุชِูŠ ูˆَุชَุบَุฏَّูŠْุชُ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ุขุชِูŠَ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ู‚َุงู„َ ุดَุงุชُูƒَ ุดَุงุฉُ ู„َุญْู…ٍ

Nabi saw berkhutbah pada hari 'Iedul Adha setelah melaksanakan shalat.
Beliau saw bersabda:
“Barangsiapa melaksanakan shalat seperti shalat kami dan melaksanakan NASAKA (berqurban dengan cara NUSUK) seperti NUSUKANA (penyembelihan qurban kami) maka dia telah melaksanakan NUSUKA (berqurban dengan cara NUSUK). Dan barangsiapa NASAKA (berqurban dengan cara NUSUK) sebelum shalat, berarti dia belum melaksanakan NUSUKA (berqurban dengan cara NUSUK)."
( HR. Bukhari No. 955, Kitab Fathul Bari )

Keenam: Al-HADYU (ุงู„ู‡ุฏูŠ)

Aktifitas menyembelih Hewan Qurban, khususnya bagi jamaah haji, disebut juga Al-HADYU, diambil dari kata “Hada - Yahdi - Ihtadaa” yang berarti hadiah.

Imam An-Nawawi ra menjelaskan pengertian HADYU sebagai berikut,

“HADYU adalah hewan atau selain hewan yang dihadiahkan ke tanah suci. Yang dimaksud hewan disini adalah hewan yang sah digunakan untuk berqurban, yaitu unta, sapi dan kambing.”
( Kitab Tahriru Alfazhi At-Tanbih, hal. 156 )

ูˆَุฃَุชِู…ُّูˆุง ุงู„ْุญَุฌَّ ูˆَุงู„ْุนُู…ْุฑَุฉَ ู„ِู„َّู‡ِ ูَุฅِู†ْ ุฃُุญْุตِุฑْุชُู…ْ ูَู…َุง ุงุณْุชَูŠْุณَุฑَ ู…ِู†َ ุงู„ْู‡َุฏْูŠِ ูˆَู„ุง ุชَุญْู„ِู‚ُูˆุง ุฑُุกُูˆุณَูƒُู…ْ ุญَุชَّู‰ ูŠَุจْู„ُุบَ ุงู„ْู‡َุฏْูŠُ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah (jika) kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) al-HADYU (hewan qurban hadiah) yang mudah didapat, dan jangan kamu cukur kepalamu sebelum al-HADYU (hewan qurban hadiah) itu sampai di tempat penyembelihannya.”
( QS. Al Baqarah 2:196 )

ุนَู†ْ ุงู„ْู…ِุณْูˆَุฑِ ุจْู†ِ ู…َุฎْุฑَู…َุฉَ ูˆَู…َุฑْูˆَุงู†َ ู‚َุงู„َุง ุฎَุฑَุฌَ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุฒَู…َู†َ ุงู„ْุญُุฏَูŠْุจِูŠَุฉِ ู…ِู†ْ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ูِูŠ ุจِุถْุนَ ุนَุดْุฑَุฉَ ู…ِุงุฆَุฉً ู…ِู†ْ ุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†ُูˆุง ุจِุฐِูŠ ุงู„ْุญُู„َูŠْูَุฉِ ู‚َู„َّุฏَ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุงู„ْู‡َุฏْูŠَ ูˆَุฃَุดْุนَุฑَ ูˆَุฃَุญْุฑَู…َ ุจِุงู„ْุนُู…ْุฑَุฉِ

Dari Al-Miswar bin Makhromah dan Marwan, mereka berkata, Rasulullah saw keluar dari Madinah pada peristiwa Hudaibiyah bersama seribu sekian ratus shahabatnya. Ketika mereka sampai di Dzu Al-Hulaifah maka Rasulullah saw mengalungi hewan kurban HADYU-nya dan memberi tanda pada punuknya dan beliau berihram dengan niat umrah”
( Shahih Bukhari, 158/6 )

Wait ... Wait ... Wait ...

Perasaan dari tadi, ini kajian bahasnya hanya dalil ayat dan hadits terus deh, lalu mana dong bahasan dari sudut pandang hakikatnya? ๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ค

Nah itu dia, justru bahasan-bahasan dalil ayat dan hadits di atas memang sengaja saya pasang di depan buat saya jadikan sebagai pengantar tidur, eh ralat, maksudnya pengantar awal untuk menuju bahasan hakikatnya, begitu lho, gak sabaran amat sih jadi orang, biasain kenapa kalau baca tulisan itu tertib dari awal sampai akhir, baris demi baris, sampai detail titik komanya ๐Ÿคญ๐Ÿ˜…

Ya udah kalau begitu untuk mempersingkat umur, eh maaf, maksudnya untuk mempersingkat waktu, bagaimana kalau kita langsung to the point aja ke bahasan intinya, tapi menarik kan bahasannya ... ๐Ÿคช

Busyet dah nih orang, emangnya itu tulisan panjang lebar dari A sampai Z yang ada di atas apaan dong?! Masa tulisan udah panjang kayak jalan tol begini masih bilang baru mau dimulai... hadeh... ๐Ÿคฆ๐Ÿป‍♂️๐Ÿคฆ๐Ÿป‍♂️

Ok. Let’s do it.. Mohon Fokus ya ... ๐ŸŽฏ๐ŸŽฏ๐ŸŽฏ

Pertama, Hakikat QURBAN sebagai An-NAHR.


Dalam penjelasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa An-NAHR secara harfiah dapat dimaknai sebagai “ANHARA Ad-DAMMA” yang berarti “mengalirkan DARAH”.

Ritual Pengurbanan Hewan Qurban sejatinya mengandung makna yang mendalam tentang bentuk ketradisian kuno yang berkaitan dengan penghayatan-penghayatan terhadap keillahian semesta. Pengurbanan Hewan Qurban bukan untuk dipandang sebagai “pembunuhan” namun seyogyanya dipandang sebagai proses “penghalusan” dari RUH untuk nantinya mendapatkan tubuh, pikiran dan kesadaran yang semakin berkembang.

Dalam Serat Wirid Hidayat Jati sebagai kumpulan wejangan ajaran Kejawen dari para wali songo yang berhasil dikumpulkan oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita, seorang jebolan pesantren Gebang Tinatar, Ponorogo (nama kecilnya Raden Bagus Burham) sebagai sebuah karya sastra berbahasa Jawa Baru pada Tahun Alip 1779 Jawa atau Tahun 1851 Masehi, disebutkan bahwa DARAH selain berfungsi untuk menghidupi tubuh fisik, sesungguhnya juga membawa Budhi (kesadaran). Budhi juga berarti Kesadaran Jaga (conciousness). DARAH yang membawa Budhi (Kesadaran Jaga) disebut sebagai “Pepaesaning Dat” (Hiasan Dzat), disebut juga sebagai “Wiwaraning Atma” yakni lubang yang melingkar dari RUH. Lubang adalah celah. Di dalam DARAH sesungguhnya terdapat lubang atau celah. Jika DARAH menghilang, maka keluarlah RUH dari tubuh fisik.

RAH, demikian orang Jawa Kuno menyebut DARAH. Dari sinilah kemudian kata RAH lantas dihubungkan dengan RUH, dengan sebuah keyakinan bahwa RAH sejatinya merupakan perwujudan dari RUH.

Nah ketika ritual pengurbanan hewan qurban dipandang sebagai proses penghalusan dari RUH, maka praktik pengurbanan hewan qurban akan dianggap sebagai pengurbanan tubuh. Segala yang berkenaan dengan tubuh lantas diqurbankan. Tetapi, pengurbanan tubuh bukan berarti mengkesampingkan keadaan tubuh, melainkan memelihara tubuh dengan melakukan pelampauan terhadap yang “dikehendaki” oleh tubuh, dalam artian melakukan kendali atas keinginan-keinginan lahiriah yang dapat mempercepat kerusakan tubuh.

Ada milyaran keinginan yang menghendaki kenikmatan tubuh. Dan semua keinginan tersebut tidak mungkin dikendalikan seluruhnya, terlebih menghilangkannya dengan paksa. Keinginan mesti dilepaskan dengan membuat kanal-kanal yang baik dan terarah. Bagi jalan ini, keinginan insting hewani dalam diri adalah sumber dari keinginan-keinginan selanjutnya, yang jika tidak terpenuhi maka akan memunculkan gejolak emosional yang berwujud pada perilaku marah, irihati, dendam, cemburu dan perilaku kasar lainnya. Keinginan ini ada dalam diri setiap manusia, ia digerakkan oleh energi Awidyamaya (ketidaktahuan) yang kuat, energi yang dikenal sebagai Ego yang disebut pula sebagai Ahamkara (Perasaan), tempat bersumbernya Nafs Ammarah (Nafsu Amarah). Dari sinilah kemudian ritual pengurbanan Hewan Qurban dipandang sebagai tradisi Keilahian Semesta yang bermanfaat untuk melepaskan energi Awidyamaya (ketidaktahuan) atau energi Ego yang ada dalam diri.

Kedua, Hakikat QURBAN sebagai Adz-DZAB-HA.


Jika An-NAHR dimaknai sebagai menyembelih hewan pada bagian LABBAH (leher bagian bawah), maka Adz-DZABH-HA dimaknai sebagai menyembelih hewan pada bagian HALQI (leher bagian atas).

Baik An-NAHR ataupun Adz-DZABH-HA keduanya adalah cara yang dilakukan untuk menyembelih Hewan Qurban pada bagian tubuh yang bernama LEHER.

Dalam Bahasa Jawa Kuno, LEHER disebut dengan istilah JANGGA. Sedangkan JEJANGGAN artinya berkedudukan sebagai LEHER. Lewat ritual Pengurbanan Hewan Qurban, kita belajar tentang pentingnya peran LEHER. Bagian tubuh yang menghubungkan kepala dengan badan. Bagian tubuh yang menjadi saluran makanan dari mulut menuju ke lambung. Bagian tubuh yang menjadi saluran udara dari hidung menuju ke paru-paru. LEHER, meskipun bukan bagian tubuh yang utama, namun memegang peranan penting. Karena jika LEHER putus, maka berakhirlah kehidupan seorang manusia.

Ada sebuah penelitian ilmiah yang sangat menarik terkait cara penyembelihan hewan secara Syari’at Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Schultz dan Dr. Hazim dari Hannover University, Jerman.

Di dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa pada 3 detik pertama setelah hewan disembelih (setelah ketiga saluran pada leher hewan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG yang dipasang di permukaan otak sebagai indikasi tidak adanya rasa sakit. Lalu pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga hewan benar-benar kehilangan kesadarannya. Pada saat yg sama, tercatat pula bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya, dan 6 detik berikutnya, grafik ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar tubuh secara maksimal sehingga kemudian hewan yang disembelih dengan cara Syari’at islam akan memiliki daging yang sehat secara medis.

Nah dalam tubuh manusia, secara simbolis, peran LEHER berfungsi menghubungkan Otak sebagai GATE of ABOVE dan Jantung sebagai GATE of BELOW. Ketika LEHER putis maka Kesadaran Otak pun akan hilang dan dampaknya Jantung pun akan menarik sebanyak mungkin DARAH dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar secara maksimal.

DARAH adalah perwujudan dari Nafs Ammarah (Nafsu Amarah) yang padanya tersimpan berbagai rupa gejolak emosional. Sehingga ketika DARAH terpompa keluar tubuh secara maksimal sebagai dampak dari putusnya LEHER dan turunnya Kesadaran Jaga (conciousness) dari Otak, maka idealnya seluruh gejolak emosional yang terpendam dalam Nafs Ammarah (Nafsu Amarah) pun terkikis habis. Dan ini hanya dapat dilakukan ketika penghubung Otak dan Jantung terputus jalannya.

Dari sinilah kemudian praktik Pengurbanan Hewan Qurban memberikan sebuah pelajaran berharga bahwa seorang Manusia baru menjadi Manusia, ketika Otak dan Hati terhubung satu sama lain oleh bagian tubuh yang bernama LEHER. Maka tidaklah salah ketika Rasulullah saw menyatakan bahwa AKAL itu ada dua yakni di Kepala (Otak) dan di Hati (Jantung).

Ketiga, Hakikat Qurban sebagai Ad-DHAHHA.


Dalam penjelasan sebelumnya, kata Ad-DHAH-HA yang darinya menurunkan kata al-UDH-HIYAH dimaknai sebagai hewan sembelihan.

Dalam Bahasa Sunda, Hewan disebut dengan istilah SATO. Naskah Sunda Kuno berjudul Serat Sewaka Dharma 499 menyatakan bahwa manusia itu terbagi dua, yaitu pertama, JALMA SATO, yakni manusia yang wujudnya adalah manusia namun entitas jiwanya adalah SATO (hewan) dan kedua, JALMA MANUSA, yakni manusia yang telah dapat menaklukkan Jiwa-Jiwa Hewani yang melekat dalam Tubuh Halusnya.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali ra pernah menyampaikan bahwa Penyembelihan Hewan Qurban sejatinya adalah simbol dari penyembelihan sifat-sifat hewani yang ada dalam diri manusia.

Atau dalam bahasa Serat Sewaka Dharma, dapat dikatakan bahwa Penyembelihan Hewan Qurban sejatinya adalah simbol dari transformasi diri dari JALMA SATO menjadi JALMA MANUSA melalui proses penyembelihan Jiwa-Jiwa SATO (Jiwa Hewani) dalam diri manusia.

Kata SATO sendiri rupanya berasal dari kata SATTWA yang berasal dari Bahasa Jawa Kuno (bahasa dimana belum ada pemisahan antara Bahasa Jawa dan bahasa Sunda.

Secara etimologis kata SATTWA berasal dari kata “SAT” yang berarti “Ruh” yang identik dengan ATMA, dan kata “TWA” yang berarti sifat mendekati keburukan atau sifat kebinatangan (perilaku seperti binatang) sehingga SATTWA dimaknai sebagai Ruh yang memiliki sifat kebinatangan.

Kamus Tasawuf mencatat sekurang-kurangnya ada 10 jenis SATTWA atau SATO (Jiwa Hewani) dalam diri manusia, yakni:


  1. SATTWA atau SATO ANJING
    Disebut pula sebagai “NAFS KALBIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: suka memonopoli sendiri, suka menilai negatif orang lain (su’udzon) dan suka menghina orang lain.
  2. SATTWA atau SATO KELEDAI
    Disebut pula sebagai “NAFS HIMARIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: pandai memikul namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Dengan kata lain, ia tidak memahami masalah.
  3. SATTWA atau SATO SERIGALA
    Disebut pula sebagai “NAFS SABU’IYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: suka menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apapun.
  4. SATTWA atau SATO TIKUS
    Disebut pula sebagai “NAFS FA’RIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: suka merusak, menilep, mencuri, korupsi atau sejenisnya.
  5. SATTWA atau SATO HEWAN BERBISA
    Disebut pula sebagai “NAFS DZATIS SUHUMI WA HAMATI WAL HAYATI WAL AQRABI”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: suka menyindir-nyindir orang, suka menyakiti hati orang lain, dengki, dendam, dan sejenisnya.
  6. SATTWA atau SATO BABI
    Disebut pula sebagai “NAFS KHINZIRIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: suka kepada yang kotor,busuk, apek, dan menjijikkan.
  7. SATTWA atau SATO BURUNG MERAK
    Disebut pula sebagai “NAFS THUSIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: suka menyombongkan diri, suka pamer, suka berlagak, busung dada, dan sebagainya.
  8. SATTWA atau SATO UNTA
    Disebut pula sebagai “NAFS JAMALIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: tidak mempunyai sopan santun, tidak mempunyai kasih sayang, tidak mempunyai tenggang rasa sosial, tidak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung.
  9. SATTWA atau SATO BERUANG
    Disebut pula sebagai “NAFS DUBBIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: biarpun kuat dan gagah, tapi akalnya tidak dipakai.
  10. SATTWA atau SATO MONYET
    Disebut pula sebagai “NAFS QIRDIYAH”. Perwujudan dari entitas SATO ini antara lain: jika diberi ia mengejek, jika tidak dikasih ia mencibir, sinis, dan suka melecehkan orang lain.


Nah Penyembelihan Hewan Qurban hakikatnya merupakan prosesi penyembelihan kesepuluh SATO (jiwa hewani) dalam diri manusia sebagai sebuah transformasi diri dari JALMA SATO menjadi JALMO MANUSA.

Keempat: An-NUSUK


Dalam penjelasan sebelumnya An-NUSUK dimaknai sebagai menusuk atau menyembelih hewan qurban dengan cara menusuk.

Jika di atas kita telah memahami bahwa sekurang-kurangnya ada 10 SATTWA atau SATO (jiwa hewani) yang harus disembelih, maka sekarang pertanyaannya adalah dari ke-10 SATTWA atau SATO tersebut manakah yang harus kita sembelih, mengingat dalam Syari’at Islam sendiri ada batasan hewan-hewan mana saja yang dapat dijadikan sebagai Hewan Qurban.

Al-Quran secara tegas menyatakan bahwa Hewan Qurban hanya boleh diambil daricjenis BAHIIMATUL AN’AAM saja.

“Bagi setiap umat telah Kami syariatkan MANSAKAN (penyembelihan dengan cara NUSUK) supaya kalian menyebut nama Allah atas BAHIIMATIL-AN’AAM (hewan-hewan ternak) yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa karena itu berserah dirilah.
( QS. Al-Hajj 22:34 )

Ayat di atas dijelaskan lebih lanjut dalam Kitab shahih Fiqih sebagai berikut,

“Hewan qurban hanya boleh dari jenis BAHIIMATUL AL-AN’AAM (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut.”
( Kitab Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406 )

Al-Kasani menambahkan:
“Adapun jenis hewan qurban hendaknya dengan kambing, unta dan sapi, baik dari jenis laki-laki maupun perempuan. Hewan domba termasuk juga jenis dari kambing, kerbau juga termasuk jenis dari sapi dan tidak boleh berqurban dengan hewan yang buas.”
( Kitab Badai’ Ash-Shonai’, jilid 5 hal. 69 )

Sehingga dari penjelasan di atas, jelas adanya bahwa hewan yang dapat dijadikan Hewan Qurban hanyalah kambing, domba, unta, sapi dan kerbau. Hewan ternak selain itu dan juga Hewan Buas tidak dapat dijadikan sebagai Hewan qurban.

Sehingga dengan demikian dari ke-10 jenis SATTWA atau SATO (Jiwa Hewani) yang ada dalam diri manusia yang memenuhi syarat sebagai Hewan Qurban adalah SATTWA atau SATO UNTA yang dikenal pula sebagai NAFS JAMALIYAH. Sehingga sampai disini, Penyembelihan Hewan Qurban secara hakikat dimaknai sebagai simbol atas penyembelihan SATTWA atau SATO UNTA yang memiliki sifat-sifat kebinatangan seperti mementingkan dirinya sendiri, tidak mempedulikan kesusahan orang lain, mencari selamat dan untung sendiri, tidak memiliki rasa santun dan kasih, serta tidak memiliki rasa sosial terhadap orang lain.

Kelima (yang terakhir), QURBAAN yang dimaknai artinya sebagai dekat atau mendekati.


Penyembelihan Hewan Qurban sejatinya bertujuan sebagai “Taqarubban Ilallah” yakni upaya mendekatkan diri kepada Alla Azza wa Jalla.

Seorang Sufi yang bernama Amr ibnu Utsman al-Makki ra menjelaskan tentang penciptaan Nafs, Qalbu, dan Ruh sebagai berikut,

"Tuhan menciptakan NAFS 7000 tahun sebelum Jasad, dan menjaga mereka dalam maqam KEDEKATAN (QURBAH) dan menciptakan Ruh 7000 tahun sebelum Nafs, dan menjaga mereka dalam maqam keintiman (Uns), dan menciptakan Qalb 7000 tahun sebelum Ruh, dan menjaga mereka dalam maqam perserikatan (Wasl). Tuhan mengungkapkan keindahan dan kecantikan-Nya kepada Qalb sebanyak 360 kali setiap harinya, dan menganugerahkan Qalb dengan 360 penglihatan Rahmat, dan Tuhan menyebabkan Ruh mendengar kata Cinta sebanyak 360 kali dan memanifestasikan 360 anugerah KEAKRABAN (AQRABA) yang istimewa kepada NAFS sehingga mereka semua melihat alam semesta yang luar biasa dan melihat tidak ada lagi yang berharga dibanding diri mereka dan diisi dengan kesombongan dan kebanggaan. Oleh karena itu Tuhan memperlakukan mereka dengan masa percobaan. Tuhan mengurung Qalb di dalam Ruh, dan mengurung Ruh di dalam NAFS, dan mengurung NAFS di dalam Jasad, kemudian Tuhan mencampur mereka dengan Akal dan mengirim para nabi untuk memberi perintah, dan kemudian masing-masing dari mereka mulai mencari stasiun asli mereka masing-masing. Tuhan memerintahkan mereka untuk shalat, Jasad pun akhirnya pergi berdiri untuk Shalat, NAFS mencapai maqam KEDEKATAN dengan cara MENCINTAI, Ruh menggapai maqam keintiman dengan Tuhan, dan Qalb pun menemukan pelabuhan dengan-Nya."

Syaikh AbduL Aziz Ad-Darini dalam bukunya "Terapi Menyucikan Hati" menyatakan sbb:

"Ingatlah kepada Allah dengan pengabdian, maka Allah akan mengingatmu dgn memberikan banyak kenikmatan. Ingatlah kepada Allah dengan pengesaan (tauhid), maka Allah akan mengingatmu dgn menganugerahkan kekuatan (ta'yid). Ingatlah kepada Allah dgn rasa terima kasih (syukr), maka Allah akan mengingatmu dgn menambah karunia (ziyadah al-ni'am). Ingatlah kepada Allah dgn CINTA (MAHABBAH), maka Allah akan mengingatmu dgn KEDEKATAN (QURBAH). Ingatlah kepada Allah dgn rasa takut (khauf), maka Allah akan mengingatmu dgn memberi rasa tenteran (aman). Ingatlah kepada Allah dgn harapan (raja), maka Allah akan mengingatmu dgn merealisasikan cita-citamu (tahqiq al-amal)."

Secara hakikat, Penyembelihan Hewan Qurban seyogyanya dimaknai sebagai Manifestasi rasa CINTA (Mahabbah) kepada Allah Azza wa Jalla melebihi CINTA kepada selain-Nya sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as yang harus menyembelih Ismail as putranya, sebagai bukti besarnya CINTA Nabi Ibrahim as kepada Tuhannya melebihi CINTA-nya kepada anaknya sendiri. Inilah suri tauladan terbaik dari seorang manusia yang berhasil mencapai Maqam KEAKRABAN (AQRABA) dan KEDEKATAN (QURBAH) kepada Tuhannya karena CINTA-nya kepada Tuhannya melebihi CINTA-nya kepada segala sesuatu.

Saudaraku, ketahuilah bahwa bukan DARAH atau DAGING dari Hewan Qurban kita yang akan sampai kepada Allah, melainkan KETAKWAAN kitalah yang sampai kepada Allah.

‎ู„َู† ูŠَู†َุงู„َ ุงู„ู„َّู€ู‡َ ู„ُุญُูˆู…ُู‡َุง ูˆَู„َุง ุฏِู…َุงุคُู‡َุง ูˆَู„َู€ٰูƒِู† ูŠَู†َุงู„ُู‡ُ ุงู„ุชَّู‚ْูˆَู‰ٰ ู…ِู†ูƒُู…ْ ۚ

“Bukan DAGING dan DARAH itu yang sampai (kepada) Allah, namun KETAKWAAN-mu yang sampai kepada-Nya.” ( QS. Al-Hajj 22:37 )

‎ูˆَุงุชْู„ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู†َุจَุฃَ ุงุจْู†َูŠْ ุกَุงุฏَู…َ ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ุฅِุฐْ ู‚َุฑَّุจَุง ู‚ُุฑْุจَุงู†ًุง ูَุชُู‚ُุจِّู„َ ู…ِู†ْ ุฃَุญَุฏِู‡ِู…َุง ูˆَู„َู…ْ ูŠُุชَู‚َุจَّู„ْ ู…ِู†َ ุงู„ุขุฎَุฑِ ู‚َุงู„َ ู„ุฃَู‚ْุชُู„َู†َّูƒَ ู‚َุงู„َ ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุชَู‚َุจَّู„ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠู†َ

“Dan Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan Qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa” ( QS. Al-Maaidah 5:27 )

Maka dari itu jadikanlah KETAKWAAN sebagai pondasi dan pijakan dari NIAT kita berqurban, bukan yang lain.

Anas bin Malik ra berkata,
Lalu Rasulullah saw menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali sambil berkata:
“TAKWA itu ada disini, TAKWA itu ada disini, TAKWA itu ada disini.”
( HR. Ahmad No. 11933 )

Dan ketahuilah Saudaraku, ingatlah selalu akan Nasihat Nabi Usmal as kepada Kasorai yang hidup di masa Kerajaan Najase yang kemudian berubah nama menjadi Kerajaan Astaliyum, yang hidup di pertengahan zaman kelima (Dwipanta-Ra) berikut ini,

“Dan kosongkanlah dirimu dari setiap kehendak, keberadaan, dan prasangka. Lalu hanya dengan cara ber-BHAKTI, melakukan pengabdian, dan CINTA yang MURNI kepada Tuhan sajalah engkau akan mendapatkan keselamatan. Dan keselamatan itu akan mengantarkan dirimu pada kebahagiaan yang sempurna. Itulah kehidupan yang sejati.”

“Untuk itu ketahuilah bahwa Hal yang paling berharga di alam wujud ini adalah kebahagiaan abadi. Kebahagiaan ini hanya akan tercapai dengan MENCINTAI Yang Maha Suci sepenuh hati, bahkan tidak menyukutukan CINTA kepada selain-Nya. Dan CINTA yang utuh hanya akan tercapai dengan mengetahui kesempurnaan Dzat yang dicintai dan keindahan-Nya. Siapa yang tidak mengenal-Nya tidak akan MENCINTAI-Nya. Manakala Dzat yang dicintai dengan sifat-sifat-Nya telah diketahui hakikatnya secara sempurna, maka niscaya KECINTAAN akan tumbuh pada diri orang yang mengetahui sifat-sifat-Nya secara sempurna itu.”

Demikian kajian ini saya persembahkan untuk Nusantaraku. Semoga dapat dipahami.

Kajian ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu Mohon maaf atas kekhilafan dan kesalahan yang datang dari diri saya pribadi yang saya torehkan dalam kajian ini.

Wallahu ‘alam bishshawab.

SELAMAT HARI RAYA ‘IEDUL ADHA 1440 H
MERDEKA ...

Sarwa Rahayu,
Jaya Jayanti Nusantaraku,
๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

Bhumi Ma-Nuuwar al-Jawi
12 Agustus 2019 M / 11 Dzulhijjah 1440 H

Sumber: https://www.facebook.com/yeddiapriansyakhalathas/photos/a.2454444231252068/2968985873131232/

Tuesday, August 6, 2019

7 Golongan yang Dinaungi Allah di Padang Mahsyar

7 golongan yang dinaungi Allah di padang mahsyar berdasarkan hadits HR. Bukhari 1334/1423.

Berkata Abu Hurairah r.a : bahwa Nabi SAW telah bersabda:

Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yg tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya

Pada hari kiamat ada tujuh tipe atau golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan Allah swt., yaitu :

Pemimpin yang adil

Menjadi pemimpin yang adil itu tidaklah mudah, butuh pengorbanan pikiran, perasaan, harta, bahkan jiwa. Dalam ajaran Islam, kepemimpinan bukanlah fasilitas namun amanah. Kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai fasilitas, kemungkinan besar kita akan memanfaatkan kepemimpinan itu sebagai sarana memperkaya diri tanpa menghiraukan aspek halal atau haram.

Sebaliknya, kalau kita menganggap kepemimpinan atau jabatan itu sebagai amanah, kita akan melaksanakan kepemimpinan itu dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Nah, untuk melaksanakan kepemimpinan dengan cara yang amanah itu tidaklah mudah, Karena itu logis kalau kita menjadi pemimpin yang adil, Allah akan memberi perlindungan di akhirat kelak.

Anak muda yang saleh

(Pemuda yang aktif, gesit, dalam ibadah kepada Allah SWT.Aktivitasnya mendekatkan dirinya kepada Allah SWT).

Masa muda adalah masa keemasan karena kondisi fisik masih prima. Namun diakui bahwa ujian pada masa muda itu sangat beragam dan dahsyat. Oleh sebab itu, apabila ada anak muda yang mampu melewati masa keemasannya dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada-Nya, menjauhkan diri dari berbagai kemaksiatan, serta mampu mengendalikan nafsu syahwatnya, Allah akan memberikan perlindungan-Nya pada hari kiamat. Ini merupakan imbalan dan penghargaan yang Allah berikan kepada anak-anak muda yang saleh.

Orang yang hatinya terikat pada mesjid

(hamba Allah, yang hatinya senang berada di dalam masjid, Dia betah di masjid).

Kalimat “seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid” seperti yang disebutkan hadits di atas, paling tidak menunjukkan dua pengertian. Pengertian pertama, orang-orang yang kapan dan di manapun berada selalu ingin memakmurkan tempat ibadah. Pengertian kedua, orang-orang yang tidak pernah melalaikan ibadah di tengah kesibukan apapun yang dijalaninya.

Bersahabat karena Allah

(Orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu karena Allah, berpisah karena Allah.)

Poin ini terambil dari kalimat “dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah”. Bersahabat karena Allah swt. maksudnya kita mencintai seseorang atau membencinya bukan karena faktor harta, kedudukan, atau hal-hal lain yang bersifat material, namun murni semata-mata karena Allah swt.

Kalau sahabat kita berbuat baik, kita mendukungnya, dan kalau berbuat salah kita mengingatkannya, bahkan kita berani meninggalkannya kalau sekiranya sahabat tersebut akan menjerumuskan kita pada gelimang dosa dan maksiat. Inilah yang dimaksud dengan persahabatan karena Allah.

Mampu menghadapi godaan lawan jenis.

(Pemuda yang dirayu, digoda, oleh wanita cantik yang memiliki kekayaan, lalu ia berkata: "Aku takut kepada Allah").

Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah.” Kalimat ini menggambarkan bahwa kalau kita mampu menghadapi godaan syahwat dari lawan jenis, maka kita akan mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat.

Di sini digambarkan seorang laki-laki yang digoda wanita bangsawan nan rupawan tapi dia menolak ajakannya bukan karena tidak selera kepada wanita itu, namun karena takut kepada Allah. Jadi, rasa takut kepada Allahlah yang menjadi benteng laki-laki tersebut, sehingga tidak terjerembab pada perbuatan maksiat. Karena itu Allah memberikan penghargaan pada hari kiamat dengan memberikan pertolongan-Nya. Di sini diumpamakan laki-laki yang digoda wanita, namun sangat mungkin wanita pun digoda laki-laki.

Ikhlas dalam beramal.

(Orang yang bersedakah yang tangan kanannya memberi tapi tangan kirinya tidak tahu).

Seseorang yang mengeluarkan sedekah lantas disembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya.” Ini gambaran keikhlasan dalam beramal. Saking ikhlasnya dalam beramal sampai-sampai tangan kiri pun tidak tahu apa yang diinfakkan atau disumbangkan oleh tangan kanannya. Pertanyaannya, bolehkah kita bersedekah sambil diketahui orang lain, bahkan nama kita dipampang di koran?

Boleh saja, asalkan benar-benar kita niatkan karena Allah swt., bukan karena cari popularitas. Perhatikan ayat berikut, ” Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Baqarah 2: 271)

Dzikir kepada Allah dengan khusyu.

(hamba Allah, atau orang yang dalam ingatannya kepada Allah, dalam ibadahnya, dalam doanya, dalam dzikirnya, ia menangis)

Seseorang berDzikir kepada Allah di tempat yang sunyi, kemudian ia mencucurkan air mata. ”Dzikir artinya mengingat Allah. Kalau seseorang berdo’a dengan khusyu hingga tak terasa air mata menetes karena sangat nikmat berDzikir dan munajat kepada-Nya, maka Allah akan memberikan pertolongan kepadanya pada hari kiamat kelak.

Hadits

Hadits lengkapnya tentang 7 golongan yang dinaungi Allah di padang mahsyar sebagai berikut:
Hadits riwayat Al-Bukhary nomor 1334/1423.
ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูกูฃูฃูค: ุญุฏุซู†ุง ู…ุณุฏุฏ ุญุฏุซู†ุง ูŠุญูŠู‰ ุนู† ุนุจูŠุฏ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุงู„ ุญุฏุซู†ูŠ ุฎุจูŠุจ ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุฑุญู…ู† ุนู† ุญูุต ุจู† ุนุงุตู… ุนู† ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡
ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„ ุณุจุนุฉ ูŠุธู„ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ููŠ ุธู„ู‡ ูŠูˆู… ู„ุง ุธู„ ุฅู„ุง ุธู„ู‡ ุฅู…ุงู… ุนุฏู„ ูˆุดุงุจ ู†ุดุฃ ููŠ ุนุจุงุฏุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุฌู„ ู‚ู„ุจู‡ ู…ุนู„ู‚ ููŠ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ูˆุฑุฌู„ุงู† ุชุญุงุจุง ููŠ ุงู„ู„ู‡ ุงุฌุชู…ุนุง ุนู„ูŠู‡ ูˆุชูุฑู‚ุง ุนู„ูŠู‡ ูˆุฑุฌู„ ุฏุนุชู‡ ุงู…ุฑุฃุฉ ุฐุงุช ู…ู†ุตุจ ูˆุฌู…ุงู„ ูู‚ุงู„ ุฅู†ูŠ ุฃุฎุงู ุงู„ู„ู‡ ูˆุฑุฌู„ ุชุตุฏู‚ ุจุตุฏู‚ุฉ ูุฃุฎูุงู‡ุง ุญุชู‰ ู„ุง ุชุนู„ู… ุดู…ุงู„ู‡ ู…ุง ุชู†ูู‚ ูŠู…ูŠู†ู‡ ูˆุฑุฌู„ ุฐูƒุฑ ุงู„ู„ู‡ ุฎุงู„ูŠุง ููุงุถุช ุนูŠู†ุงู‡

Shahih Bukhari 1334: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah berkata: telah menceritakan kepada saya Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari qiyamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu: Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Rabnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata: "aku takut kepada Allah", seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis".

Wednesday, July 23, 2014

Keganasan dan Islam by Pierre Vogel Abu Hamza

Salah seorang wartawan bertanya kepada pendakwah terkemuka German iaitu Pierre Vogel atau nama Islam nya Abu Hamza tentang kaitan antara keganasan dan Islam, beliau dengan lantang dan berani menjawab :
Siapa yang mencetuskan Perang Dunia Pertama ? adakah orang islam?
Siapa yang mencetuskan Perang Dunia kedua? Adakah orang islam ?
Siapa pula yang telah membunuh 20 juta nyawa suku kaum Aborigine Australia?! Adakah orang Islam ?
Siapakah yang menghantar bom untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki ? Adakah
orang Islam ?.
Siapa pula yang membunuh lebih 100 juta orang Indian Amerika Utara ? adakah orang Islam ?
Dan siapa yang membunuh 50 juta orang Indian di Selatan Amerika ? Adakah orang Islam ?
Siapa pula yang menjadikan seramai 180 juta orang-orang Afrika sebagai hamba dan 88% dari hamba-hamba itu mati di buang di lautan Atlantik !! adakah orang islam yang melakukan nya ??

TIDAK ADA DI ANTARA KALANGAN PELAKU-PELAKU ITU ADALAH ORANG-ORANG ISLAM !!

Sebelum itu, hendaklah anda ketahui maksud ''terrorisme'' dengan baik. Kalau non muslim lakukan apa-apa kesalahan seperti diatas mereka akan di sebut sebagai penjahat, tapi jika orang muslim yang kesalahan seumpama nya, di sifatkan sebagai pelaku terrorisme, pengganas, pemberontak !!
Oleh karena itu anda hendaklah membuat 2 kali pertimbangan, anda akan tahu dan mengerti siapakah yang sebenarnya PENGGANAS / TERRORIST !''

- Pierre Vogel-

SEDIKIT INFO MENGENAI PIERRE VOGEL.

Pierre Vogel di lahirkan pada 20 Julai 1978 di Frechen. Merupakan seorang ustadz, penceramah, pendakwah dan merupakan bekas petinju professional.

Pierre Vogel yang lantang bersuara ini memeluk Islam pada tahun 2001 dan mengganti namanya menjadi Abu Hamza dan setelah memeluk Islam, beliau mempelajari agama Islam, ilmu Al Quran dan kemahiran bertutur bahasa Arab di sebuah Intitusi Pengajian Islam Swasta terkemuka di Mekah yaitu di Om Al Quran.

Sekembali nya beliau ke Berlin, Jerman pada tahun 2006, beliau mengajar dan menjadi seorang guru agama di masjid Al-Nur-Moschee (mosque) Neukรถlln, di undang berceramah di kuliah-kuliah Universitas bahkan berdakwah kepada penganut agama lain juga.
Afr
Pierre Vogel menikah dengan seorang wanita dari Maghribi dan memiliki tiga orang cahaya mata. Sepanjang perjalanan beliau berdakwah, terlalu banyak kecaman, ancaman, fitnah, kritikan yang berlebihan, sabotase, dan berbagai hinaan di terima oleh beliau kerana kelantangan bersuara membela umat Islam dan Agama Islam dan juga kerana dakwah beliau, namun Pierre Vogel masih bergerak aktif berdakwah dan tidak pernah berputus asa.

Monday, January 14, 2013

Ridho Suami Berbuah Syurga untuk Istri

Ridho Suami Syurga Istri
Ada kutipan yang sering kita dengar yang berbunyi "Syurga di bawah telapak kaki ibu", tapi mungkin kita jarang mendengar kutipan sandingannya "Syurga istri pada ridho suaminya". Dibawah ini akan dikupas, mengapa ridho suami berbuah syurga untuk istri, Insya Allah Bermanfaat. Amin

Sang suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya sepanjang hidup. Tetapi ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya sepanjang hidupmu, bahkan sering kali rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.

Sang suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah ibunya hingga dia beranjak dewasa. Tetapi sebelum dia sanggup membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu, wanita asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

Sang suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah, kamu lebih harus di hormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Tetapi tidak pernah sekalipun dia merasa iri, dikarenakan dia mencintaimu dan berharap kamu memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.

Sang suami berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Padahal kamu terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia sanggup memberi solusi. padahal bisa saja disaat kamu mengadu itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar. tetapi tetap saja masalahmu di utamakan dibandingkan masalah yang dihadapi sendiri.

Sang suami berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu padahal kamu kadang hanya sanggup memahami suami secara lisan saja. Itupun jika dia telah mengulanginya berkali-kali.

Bila kamu melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung jawab akan maksiatmu. Tetapi bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri.


“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya.” (QS. An-Nisaa: 34)
"Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya, maka ia masuk surga." (HR. At-Tirmidzi)
“Jika seorang istri melakukan Shalat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, memelihara kemaluannya dan menaati suaminya, niscaya dia akan memasuki surga Tuhannya” (HR. Ahmad)
“Jika aku boleh menyuruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri untuk sujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). 

Monday, December 17, 2012

Kisah Perjalanan Hidup Manusia Dalam Islam



Kisah Perjalanan Hidup Manusia Dalam Islam ini merupakan tanggapan dari istilah Reinkarnasi dalam Islam jika pengertian reinkarnasi seperti ini
Reinkarnasi (dari bahasa Latin untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula") atau t(um)itis, merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu. (id.wikipedia.org/wiki/Reinkarnasi)

Umat Islam ada yang membagi perjalanan hidup atau alam kehidupan manusia menjadi 4, 5 dan 6 alam sesuai dengan pemikiran disandarkan pada dalil2 dari Al-Qur'an dan Hadits. dan yang membagi menjadi 4 dan 5 alam sudah tercakup pada yang membagi menjadi 6 alam.

1. Alam Ruuh

Persiapan pertama, Allah mengambil perjanjian dan kesaksian dari calon manusia, yaitu ruh-ruh manusia yang berada di alam arwah. Allah mengambil sumpah kepada mereka sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Al A’raf: 172)"


2. Alam Rahim

Rihlah pertama yang akan dilalui manusia adalah kehidupan di alam rahim: 40 hari berupa nutfah, 40 hari berupa ‘alaqah (gumpalan darah), dan 40 hari berupa mudghah (gumpalan daging), kemudian ditiupkan ruh dan jadilah janin yang sempurna. Setelah kurang lebih sembilan bulan, maka lahirlah manusia ke dunia.

Allah swt. berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitis mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Al-Hajj: 5)

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seseorang dari kamu dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya 40 hari nutfah, kemudian ‘alaqoh selama hari yang sama, kemudian mudghoh selama hari yang sama. Kemudian diutus baginya malaikat untuk meniupkan ruh dan ditetapkan 4 kalimat; ketetapan rezeki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagia.” (HR Bukhari dan Muslim)


3. Alam Dunia

Di dunia perjalanan manusia melalui proses panjang. Dari mulai bayi yang hanya minum susu ibu lalu tubuh menjadi kanak-kanak, remaja dan baligh. Selanjutnya menjadi dewasa, tua dan diakhiri dengan meninggal dunia. Proses ini tidak berjalan sama antara satu orang dengan yang lainnya. Kematian akan datang saat tiba-tiba saja untuk menjemput manusia dan tidak mengenal usia. Sebagian meninggal saat masih bayi, sebagian lagi saat masa kanak-kanak, sebahagian yang lain ketika sudah remaja dan dewasa, sebahagian lainnya ketika sudah tua.


4. Alam Barzakh / Alam Kubur

Alam berikutnya manusia akan memasuki alam kubur atau alam barzakh. Di sana mereka tinggal sendirian.

QS. Al Mukminun (23): 99 - 100
"Hingga apabila datang kematian kepada sesoorang di antara mereka, dia berkata : Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)"
"Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai mereka dibangkitkan."

Sedikit cerita tentang alam Barzah dari Hadits Nabi:

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, mengtakan Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy dari Minhal bin 'Umar dari Zadzan dari Al Barra' bin 'Azib mengatakan, Kami berangkat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengiringi seorang jenazah Anshar. Lantas kami sampai pekuburan. Ketika tanah digali, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam duduk dan kami duduk di sekitarnya, seolah-olah kepala kami ada burung-burung sedang tangan beliau membawa dahan yang beliau pukulkan ke tanah.

Beliau tengadahkan kepala beliau ke langit dan berujar "Mintalah kalian perlindungan kepada Allah dari siksa kubur (beliau mengucapkannya dua atau tiga kali). Kemudian beliau sabdakan "Seorang hamba mukmin jika berpisah dari dunia dan menghadapi akhirat, malaikat dari langit turun menemuinya dengan wajah putih seolah-olah wajah mereka matahari. Mereka membawa sebuah kafan dari kafan surga dan minyak wangi dari minyak wangi surga hingga duduk disisinya (yang besarnya malaikat tersebut) sejauh mata memandang.

Kemudian malaikat maut alaihissalam datang hingga duduk di sisi kepalanya dan berucap "Wahai jiwa yang tenang, sambutlah olehmu ampunan Allah dan keridhaan. Kata nabi, lantas jenazah tersebut mengalir sebagaimana tetesan air mengalir dari mulut kendi dan malaikat mencabutnya. Jika malaikat mencabutnya, ia tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun hingga ia cabut rohnya dan ia masukkan dalam kafan dan minyak wangi tersebut. Maka si mayit meninggal dunia sebagaimana halnya aroma minyak wangi paling harum yang ada dimuka bumi. Kata Nabi, malaikat tersebut lantas membawa naik jenazah itu, hingga tidaklah mereka melewati sekawanan malaikat selain mereka bertanya-tanya: "Oh, oh, oh, roh siapa sewangi ini? Para malaikat menjawab "Amboi, ini roh si "A" anak si "B", dan mereka sebut dengan nama terbaiknya yang manusia pergunakan untuk menyebutnya ketika di dunia, begitulah terus hingga mereka sampai ke langit dunia dan mereka meminta dibukakan, lantas dibukakan. Para malaikat ahli taqarrub mengabarkan berita kematiannya kepada penghuni langit berikutnya hingga sampai ke langit ke tujuh, lantas Alllah 'azza wajalla bertitah "Tulislah catatan hamba-Ku di 'iliyyin dan kembalikanlah ia ke bumi, sebab daripadanyalah Aku emncipta mereka dan kedalamnya Aku mengembalikan, serta daripadanya Aku membangkitkan sekali lagi.

Kata Nabi, lantas rohnya di kembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya 'Siapa Tuhanmu'. Ia menjawab 'tuhanku Allah'. Tanya keduanya "Apa agamamu?"agamu Islam." Jawabnya. Keduanya bertanya "Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini? Si mayit menjawab "Oh, dia Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam. Keduanya bertanya "darimana kamu tahu? Ia menjawab "Aku membaca kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya. Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil "HambaKu benar, hamparkanlah surga baginya dan berilah pakain surga, dan bukakanlah pintu baginya menuju surga, Kata Nabi, maka hamba itu memperoleh bau harum dan wangi surga dan kuburannya diperluas sejauh mata memandang. Lantas ia didatangi oleh laki-laki berwajah tampan, pakainnya indah, wanginya semerbak, dan malaikat itu berucap "Bergembiralah dengan kabar yang menggembirakanmu. Inilah hari yang dijanjikan unukmu. Si mayit bertanya 'Lho, siapa kamu ini sebenarnya, rupanya wajahmu adalah wajah yang emndatangkan kebaikan! si laki-laki tampan emnjawab ' Ow, aku adalah amalan salihmu. Lantas hamba tadi meminta " Ya rabbiku, tolong jadikan kiamat sekarang juga sehingga aku bisa kembali menemui keluargaku dan hartaku. Sebaliknya si hamba kafir jika berpisah dari dunia (meninggal) dan menjemput akherat, ia ditemui malaikat langit yang wajahnya kusam yang membawa kafan yang berwarna hitam legam terbuat dari rambut, mereka duduk di sisinya yang malaikat tersebut besarnya sejauh mata memandang. Lantas malaikat maut datang hingga duduk di kepalanya seraya membentak " Wahai roh yang busuk, jemputlah kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya. Kata Nabi, lantas jasadnya tercabik-cabik, dan malikat tersebut mencabut rohnya bagikan garu (atau gancu) bermata banyak yang mencabik-cabik kain basah lantas mencabutnya. Jika malaikat telah mencabutnya, ia tidak membiarkannya sekejap mata pun hingga ia bungkus dalam kain hitam kelam dari rambut dan roh tersebut pergi dengan bau busuk paling menyengat di muka bumi. Para malikat kemudian menaikkannya, dan tidaklah mereka membawanya ke sekwanan malaikat di langit selain malaikat langit berkomentar "Siapa roh busuk ini? Para malaikat yang membawanya memnjawab ' Ini adalah si "C" anak si "D', dan mereka sebut nama terbukunya yang sering manusia pergunakan untuk memanggil di dunia hingga mayit tersebut sampai ke langit dunia dan langit dunia diminta dibukakkan. Dan, langit dunia dibuka.

Kemudian Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam membaca ayat " Tidak dibuka bagi mereka pintu langit dan tak bakalan mereka masuk surga hingga unta masuk lubang jarum" (QS. Al-A'raf; 40 lantas Allah 'azza wajalla berfirman 'tolong catatlah catatannya dalam sijjin di bumi paling rendah. Kontan rohnya dibuang sejauh-jauhnya, kemudian beliau membaca ayat "Siapa yang menyekutukan Alalh, maka seolah-olah dia tersungkur dari langit lantas burung menyambarnya atau sebagaimana diterbangkan angin di tempat jauh(QS.Alhaj; 31). Maka rohnya dikembalikan dalam jasadnya. Kedua malaikat lantas mendatanginya dan mendudukkannya dan menginterogasi "Siapa tuhanmu? ia menajwab "Bbbp,, saya tidak tahu? Kedua malaikat itu bertanya lagi "Apa agamamu? Ia menjawab "Bbbppp,, saya tidak tahu?? kedua malaikat bertanya lagi "bagaimana tanggapanmu mengenai laki-laki ini yang diutus untuk kalian? Si mayit menjawab; ",, saya tidak tahu? Lantas ada Penyeru langit memanggil-manggil "ia betul-betul telah dusta! hamparkan baginya neraka! Maka malaikat membuka pintu neraka baginya dan ia mendatanginya dengan segala panasnya dan letupannya. Sedang kuburannya menjepitnya hingga tulang-tulangnya remuk. Kemudian ia didatangi oleh laki-laki yang wajahnya menyeramkan, pakainnya lusuh, baunya busuk dan berujar; "Bergembiralah engkau dengan segala hal yang menyusahkanmu. Inilah harimu yang dijanjikan bagimu. Lantas si malaikat bertanya " Siapa kamu dengan wajahmu yang sedemikian menyeramkan dan membawa keburukan ini? Lantyas si laki-laki menjawab '; "aku adalah amalan jahatmu, dan ia berdoa " ya rabb,. Jangan kiamat kau jadikan sekarang!.

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Al-A'masy Telah menceritakan kepada kami Al Minhal bin Amru dari Ibn Umar Zadzan mengatakan; saya mendengar Al Barra' bin 'Azib mengatakan, kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam menghadiri seorang jenazah anshar, lantas kami sampai di kuburan. Ketika kuburan digali, kata Albarra', Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam lantas duduk dan kami duduk bersamanya, lantas ia ceritakan semisalnya. Dan beliau sabdakan, lantas malaikat mencabut rohnya sehingga otot-ototnya dan kelenjar-kelenjarnya putus. Sedang ayahku mengatakan, dan demikianlah Zaidah mengatakan. Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin 'Amru dan Telah menceritakan kepada kami Za'idah telah menceritakan kepada kami Sulaiman Al-A'masy Telah menceritakan kepada kami Minhal bin Amru Telah menceritakan kepada kami Zadzan mengatakan, Al Barra' mengatakan, kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mengunjungi jenazah Anshar, lantas ia ceritakan maknanya, hanya ia dalam redaksinya Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda ' seorang laki-laki yang pakaiannya indah, wajahnya tampan. Sedang beliau sabdakan tentang orang kafir, maka ada seorang laki-laki menjelma baginya dengan wajah menyeramkan dan bajunya lusuh.


5. Alam Ma'syar (Hari Kebangkitan dan Hisab)

Diawali dengan kehancuran alam semesta lalu diikuti dengan kebangkitan dari kubur dan pada hari itu akan dihitung amalan2 manusia ketika didunia (Yaumul Hisab).

Al-Zalzalah
1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat),
2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
3. dan manusia bertanya: "Mengapa bumi (menjadi begini)?",
4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya,
5. karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.
6. pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka,
7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya.
8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.

Al-Qiyamah:1-5
1. aku bersumpah demi hari kiamat,
2. dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri).
3. Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?
4. bukan demikian, sebenarnya Kami Kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.
5. bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus.

An-Nazi’at: 10-14
10. (orang2 kafir) berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?
11. Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila Kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?"
12. mereka berkata: "Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan".
13. Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja,
14. Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.


6. Alam Syurga dan Neraka

Inilah kisah akhir perjalanan manusia yang menempati salah satu antara syurga dan neraka tergantung dari amal perbuatannya didunia.

dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan beramal saleh ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dengan seizin Tuhan mereka. Ucapan penghormatan mereka dalam syurga itu ialah "salaam" [sejahtera dari segala bencana]. (Ibrahim:23)

dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan kepada neraka, (Dikatakan kepada mereka): "Bukankah (azab) ini benar?" mereka menjawab: "Ya benar, demi Tuhan kami". Allah berfirman "Maka rasakanlah azab ini disebabkan kamu selalu ingkar". (Al-Ahqaaf:34)


Jadi kesimpulan saya:
Reinkarnasi dalam Islam tidak ada, sementara Ruh dalam jasad atau tubuh yang ada dari alam rahim sampai alam syurga dan neraka adalah jasad yang sama.

Jika ada kesalahan tolong dikoreksi, jika ada kekurangan tolong ditambahkan. Kebenaran Hanya Milik Allah.

Sumber: Kisah Perjalanan Hidup Manusia Dalam Islam

Saturday, October 8, 2011

Pembagian Akhlak dalam Islam

Pembagian akhlak yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menurut sudut pandang Islam, baik dari segi sifat maupun dari segi objeknya. Dari segi sifatnya, akhlak dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama, akhlak yang baik, atau disebut juga akhlak mahmudah (terpuji) atau akhlak al-karimah; dan kedua, akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah.


Akhlak Mahmudah
Akhlak mahmudah adalah tingkah laku terpuji yang merupakan tanda keimanan seseorang. Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji ini dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula”.

Sifat terpuji yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepda rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, qana’ah, khusyu dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri, silaturrahim, menghargai orang lain, menghormati orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah, suka menolong kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup bersih, menyayangi inatang, dan menjaga kelestarian alam.

Akhlak Madzmumah
Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia.

Sifat yang termasuk akhlak mazmumah adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur, riya, dengki, bohong, menghasut, kikil, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah, qati’urrahim, ujub, mengadu domba, sombong, putus asa, kotor, mencemari lingkungan, dan merusak alam.
Demikianlah antara lain macam-macam akhlak mahmudah dan madzmumah. Akhlak mahmudah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan akhlak madzmumah merugikan diri sendiri dan orang lain. Allah berfirman dalam surat At-Tin ayat 4-6.

ู„َู‚َุฏْ ุฎَู„َู‚ْู†َุง ุงู„ْุฅِู†ْุณَุงู†َ ูِู‰ ุฃَุญْุณَู†ِ ุชَู‚ْูˆِูŠْู…ٍ - ุซُู…َّ ุฑَุฏَุฏْู†َุงู‡ُ ุฃَุณْูَู„َ ุณَุงูِู„ِูŠْู†َ - ุฅِู„َّุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุฃَู…َู†ُูˆْุง ูˆَุนَู…ِู„ُูˆْุง ุงู„ุตَّุงู„ِุญَุงุชِ ูَู„َู‡ُู…ْ ุฃَุฌْุฑٌ ุบَูŠْุฑُ ู…َู…ْู†ُูˆْู†ٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapat pahala yang tidak ada putusnya.”

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda.

ุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ู„َูŠَุจْู„ُุบَ ุจِุญُุณْู†ِ ุฎُู„ُู‚ِู‡ِ ุนَุธِูŠْู…َ ุฏَุฑَุฌَุงุชِ ุงู„ْุฃَุฎِุฑَุฉِ ูˆَุฃَุดْุฑَูَ ุงู„ْู…َู†َุงุฒِู„ِ ูˆَุฅِู†َّู‡ُ ู„ِุถَุนِูŠْูِ ุงู„ْุนِุจَุงุฏَุฉِ ู„َูŠَุจْู„ُุบَ ุจْุณُูˆْุกِ ุฎُู„ُู‚ِู‡ِ ุฃَุณْูَู„َ ุฏَุฑَุฌَุฉٍ ูِู‰ ุฌَู‡َู†َّู…َ
Artinya:
“Sesungguhnya manusia yang berakhlak mulia dapat mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di Akhirat. Sesungguhnya orang yang lemah ibadahnya akan menjadi buruk perangai dan akan mendapat derajat yang rendah di neraka Jahanam.” (HR. Thabrani)


Kemudian, dari segi objeknya, atau kepada siapa akhlak itu diwujudkan, dapat dilihat seperti berikut:

Akhlak kepada Allah, meliputi antara lain: ibadah kepada Allah, mencintai Allah, mencintai karena Allah, beramal karena allah, takut kepada Allah, tawadhu’, tawakkal kepada Allah, taubat, dan nadam.

Akhlak kepada Rasulullah saw., meliputi antara lain: taat dan cinta kepda Rasulullah saw.

Akhlak kepada keluarga, meliputi antara lain: akhlak kepada ayah, kepada ibu, kepada anak, kepada nenek, kepada kakek, kepada paman, kepada keponakan, dan seterusnya.

Akhlak kepada orang lain, meliputi antara lain: akhlak kepada tetangga, akhlak kepada sesama muslim, kepada kaum lemah, dan sebagainya.

Akhlak kepada lingkungan, meliputi antara lain: menyayangi binatang, merawat tumbuhan, dan lain-lain.

Tujuan Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak merupakan upaya manusia mempertahankan hidupnya. Akhlaklah yang membedakan manusia dari binatang. Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan akhlak tidak akan mampu mempertahankan manusia dari kepunahan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin tinggi pula peralatan dan teknik membinasakan sesama manusia.

Dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa para pelaku kriminalitas dan kejahatan ekonomi kelas kakap bukanlah orang-orang bodoh, melainkan orang-orang pintar dan berpangkat tinggi. Bahkan tidak sedikit orang kaya, terpelajar, dan berpangkat tidak mampu meringankan beban kesengsaaraan rakyat.

Padahal ilmu yang dipahaminya menganjurkannya untuk menolong rakyat dari kesengsaraan dan penderitaan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tidak berilmu memiliki akhlak yang mulia. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, mereka memberikan pertolongan kepada orang lain yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.

Dari uraian ini, tampaknya dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan akhlak dalam Islam adalah sebagai berikut:

Mendapatkan Ridha Allah
Jika sikap mengharapkan ridha kepada Allah sudah tertanam dalam diri seorang muslim dan sudah menjadi hiasan dalam kehidupannya, semua perbuatan baiknya akan dilakuakan dengan ikhlas. Seorang siswa akan menuntut ilmu bukan hanya karena berharap kepandaian. Seseorang akan berdagang tidak semata-mata mencari keuntungan. Petani tidak lagi bekerja di sawah hanya karena hasil panennya saja. Bahkan, orang menolong sesamanya juga bukan hanya karena mengetahui bahwa hidup ini haruis saling tolong-menolong. Semua itu akan dilakukan oleh setiap muslim juga dalam rangka ibadah kepada Allah untuk mencari ridha-Nya.

Terbentuknya pribadi muslim yang luhur dan mulia
Seorang muslim yang mulia senantiasa bertingkah laku dengan terpuji, baik ketika berhubungan dengan Allah, sesama manusia, maupun dengan alam sekitarnya.

Terwujudnya perbuatan yang terpuji dan mulia.
Seorang muslim yang berakhlak mulia akan berusaha agar seluruh tingkah lakunya tidak menyusahkan orang lain. Sebaliknya, ia akan berusaha agar tindakannya dapat menyenangkan orang lain dan mendatangkan manfaat bagi orang lain dan diri sendiri.

Terhindarnya perbuatan yang hina dan tercela.
Dengan berakhlak mulia, seseorang dapat menyelamatkan orang lain dari dirinya. Pengaruh ini selanjutnya akan menyebar dan menyelamatkan kehidupan manusia secara umum, baik di dunia maupun di akhirat. Ibnu Rusyd, sorang filosof muslim yang ternama, berkata dalam syairnya.
ุฅِู†َّู…َุง ุงู„ْุฃُู…َู…ُ ุงู„ْุฃَุฎْู„َุงู‚ُ ู…َุง ุจَู‚ِูŠَุชْ ● ูَุฅِู†ْ ู‡ُู…ُูˆْุง ุฐَู‡َุจَุชْ ุฃَุฎْู„َุงู‚ُู‡ُู…ْ ุฐَู‡َุจُูˆْุง
Artinya: “Setiap bangsa hanya akan tegak selama masih terdapat akhlak. Jika akhlak telah hilang, maka hancurlah bangsa itu.”

Bahkan, Allah juga mengutus Nabi Muhammad untuk menyempurnakan ajaran akhlak yang telah dibawa oleh nabi-nabi sebelumnya dan menjaga kelangsungan manusia dari kepunahan yang diakibatkan oleh rusaknya pada zaman Jahiliyyah. Karena kerusakan akhlak yang melanda kaum jahiliyyah sebelum kedatangan Nabi saw telah melanda tidak saja rakyat jelata, melainkan juga kaum bangsawannya. Minuman keras, perjudian, pencurian, perampokan dengan kekerasan, dan pertumpahan darah telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari dari masyarakat jahiliyyah. Anehnya, peristiwa keburukan akhlak semacam itu tampak terulang lagi pada era globalisasi ini.