Posts

Showing posts from 2011

Pembagian Akhlak dalam Islam

Pembagian akhlak yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menurut sudut pandang Islam, baik dari segi sifat maupun dari segi objeknya. Dari segi sifatnya, akhlak dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama, akhlak yang baik, atau disebut juga akhlak mahmudah (terpuji) atau akhlak al-karimah; dan kedua, akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah.


Akhlak Mahmudah
“Akhlak mahmudah adalah tingkah laku terpuji yang merupakan tanda keimanan seseorang. Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji ini dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula”.

Sifat terpuji yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepda rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, qana’ah, khusyu dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri, silaturrahim, menghargai orang lain, menghormati orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah…

Tujuan Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak merupakan upaya manusia mempertahankan hidupnya. Akhlaklah yang membedakan manusia dari binatang. Kemajuan ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan akhlak tidak akan mampu mempertahankan manusia dari kepunahan. Semakin tinggi ilmu pengetahuan, semakin tinggi pula peralatan dan teknik membinasakan sesama manusia.

Dapat disaksikan dalam kehidupan sehari-hari bahwa para pelaku kriminalitas dan kejahatan ekonomi kelas kakap bukanlah orang-orang bodoh, melainkan orang-orang pintar dan berpangkat tinggi. Bahkan tidak sedikit orang kaya, terpelajar, dan berpangkat tidak mampu meringankan beban kesengsaaraan rakyat.

Padahal ilmu yang dipahaminya menganjurkannya untuk menolong rakyat dari kesengsaraan dan penderitaan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tidak berilmu memiliki akhlak yang mulia. Dengan segala kemampuan yang dimilikinya, mereka memberikan pertolongan kepada orang lain yang hidup dalam kemiskinan dan penderitaan.

Dari uraian ini, tampaknya dapat dipahami bahwa tuju…

Dasar Pendidikan Akhlak

Masalah akhlak menjadi barometer tinggi rendahnya derajat seseorang. Sekalipun orang dapat pandai setinggi langit, tetapi jika suka melanggar norma agama atau melanggar peraturan pemerintah, maka ia tidak dapat dikatakan seorang yang mulia. Rasulullah bersabda dalam salah satu hadisnya.

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
Artinya:
“Orang yang paling beriman adalah yang terbaik budi pekertinya, dan sebaik-baiknya kalian adalah yang berperilaku paling baik terhadap istri.” (H. R. Tirmidzi)

Akhlak tidak hanya menentukan tinggi derajat seseorang, melainkan juga masyarakat. Masyarakat yang terhormat adalah masyarakat yang terdiri atas orang-orang yang berbudi pekerti baik. Sebaliknya, masyarakat yang beranggotakan orang yang suka melakukan perampokan, kejahatan, penodongan, dan berbagai macam kemaksiatan, tidak dapat dikatakan sebagai masyarakat yang baik. Bahkan masyarakat yang demikian dapat menghambat kemajuan pembangunan dan dapa…

Pendidikan Akhlak

Sebelum membahas tentang pendidikan akhlak, terlebih dahulu akan penulis kemukakan pendapat beberapa ahli tentang pengertian dari pendidikan dan akhlak secara satu per satu.

Pengertian Pendidikan
Menurut Musthofa al-Ghulayaini, dalam kitab Idhatun Nasyi’in,

اَلتَّرْبِيَةُ هِيَ غَرْسُ الْاَخْلَاقِ الْفَضِيْلَةِ فِى نُفُوْسِ النَّاشِئِيْنَ وَسَقْيُهَا بِمَاءِ الْإِرْشَادِ وَالنَّصِيْحَةِ حَتىَّ تُصْبِحَ مَلَكَةً مِنْ مَلَكَاتِ النَّفْسِ ثُمَّ تَكُوْنُ ثَمَرَاتُهَا الْفَضِيْلَةَ وَالْخَيْرَ وَحُبَّ الْعِلْمِ لِنَفْعِ الْوَطَنِ
Artinya:
Pendidikan adalah menanamkan perilaku yang utama di dalam kepribadian anak didik dan menyiraminya dengan butir-butir petunjuk dan bimbingan, sehingga melekat menjadi suatu kepribadian yang kemudian mampu membuahkan keutamaan dan kebaikan serta senang berbuat yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa.

Sir Godfrey Thomson, dalam “A Modern Philosophy of Education”
“By education I mean the influence of the environment upon the individual to produce a permanent change in h…

Hubungan Manusia dengan Alam

Prinsip dasar hubungan manusia dengan alam atau makhluk lain di sekitarnya pada dasarnya ada dua: pertama, kewajiban menggali dan mengelola alam dengan segala kekayaannya; dan kedua, manusia sebagai pengelola alam tidak diperkenankan merusak lingkungan, karena pada kahirnya hal itu akan merusak kehidupan umat manusia itu sendiri.
Mengenai prinsip yang pertama, Allah berfirman dalam Al-Quran surat Hud ayat 61:
هُوَأَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا
Artinya: “Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan memerintahkan kalian memakmurkannya (mengurusnya)”.

Adapun mengenai prinsip yang kedua, yaitu agar manusia jangan merusak alam, dinyatakan oleh Allah melalui berbagai ayat dalam Al-Quran, di antaranya dalam surat Al-A’raf ayat 56:
وَلَاتُفْسِدُوْا فِى الْأرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya”.

Dengan demikian, dapat dipahami dengan jelas bahwa kesadaran melestarikan lingkungan, sebagaimana …

Hubungan Manusia dengan Sesamanya

Hubungan Manusia dengan Sesamanya
Prinsip dasar ajaran Islam tentang hubungan manusia dengan manusia adalah tolong-menolong dalam kebaikan dan bukan tolong-menolong dalam keburukan. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Maidah ayat 2.
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan janganlah kamu tolong menolong untuk berbuat dosa dan pelanggaran”.

Perbuatan saling menolong itu terjadi antara sesama individu dalam masyarakat. Seorang yang membantu tetangganya adalah bentuk tolong-menolong antarindividu. Bantuan masyarakat kelas menengah secara bersama-sama kepada masayarakat golongan ekonomi lemah atau bantuan suatu nagara ke negara lain adalah satu contoh lain tolong-menolong antarmasyarakat. Begitu juga kerja keras seseorang yang melahirkan karya besar yang amat berguna bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya. Beasiswa suatu lembaga kemasyarakatan untuk karya besar itu pun …

Hubungan Manusia dengan Allah SWT

Sifat hubungan antara manusia dengan Allah SWT dalam ajaran Islam bersifat timbal-balik, yaitu bahwa manusia melakukan hubungan dengan Tuhan dan Tuhan juga melakukan hubungan dengan manusia. Tujuan hubungan manusia dengan Allah adalah dalam rangka pengabdian atau ibadah. Dengan kata lain, tugas manusia di dunia ini adalah beribadah, sebagaimana firman Allah swt dalam Al-Quran surat Adz-Dzariat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

Secara garis besar, ibadah kepada Allah itu ada dua macam, yaitu ibadah yang bentuk dan tata caranya telah di tentukan oleh Allah swt, dan ibadah dan bentuk tata caranya yang tidak di tentukan oleh Allah swt. Ibadah jenis pertama adalah Mahdhoh, yaitu ibadah dalam arti ritual khusus, misalnya sholat, puasa, dan haji: cara melakukan ruku’ dan sujud dan lafal-lafal apa saja yang harus dibaca dalam melakukan sholat telah ditentukan oleh Allah S…

Ketuhanan

Prinsip dasar ajaran Islam tentang ketuhanan adalah tauhid yang berarti meng-Esa-kan Tuhan. Dalam Islam, mengajarkan adanya Allah SWT., yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Esa adalah kewajiban. Sebab, pengakuan akan keesaan Allah ini merupakan prasyarat bagi seseorang untuk dapat dikatakan sebagai muslim, yaitu seorang yang beragama Islam.
Konsep keesaan Tuhan dalam Islam adalah mutlak dan absolut. Allah swt berfirman dalam Al-Quran.
قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ - اللهُ الصَّمدُ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya.” (QS Al-Ikhlas:1-4)

Seorang muslim tidak boleh mempercayai adanya kekuatan lain yang menandingi kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Seorang muslim juga tidak boleh mempercayai adanya Tuhan selain Allah. Sikap mempercayai adanya Tuhan selain Allah itu …