Saturday, October 8, 2011

Ketuhanan

Prinsip dasar ajaran Islam tentang ketuhanan adalah tauhid yang berarti meng-Esa-kan Tuhan. Dalam Islam, mengajarkan adanya Allah SWT., yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Esa adalah kewajiban. Sebab, pengakuan akan keesaan Allah ini merupakan prasyarat bagi seseorang untuk dapat dikatakan sebagai muslim, yaitu seorang yang beragama Islam.
Konsep keesaan Tuhan dalam Islam adalah mutlak dan absolut. Allah swt berfirman dalam Al-Quran.
قُلْ هُوَاللهُ أَحَدٌ - اللهُ الصَّمدُ - لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ - وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
Artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad) Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya.” (QS Al-Ikhlas:1-4)

Seorang muslim tidak boleh mempercayai adanya kekuatan lain yang menandingi kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Seorang muslim juga tidak boleh mempercayai adanya Tuhan selain Allah. Sikap mempercayai adanya Tuhan selain Allah itu dalam Islam disebut “syirk”, yaitu mempersekutukan Allah SWT. Orang yang berbuat syirik disebut “musyrik”. Syirik itu bukan hanya merusak keimanan, melainkan lebih dari itu menghapus iman. Oleh karena itu, setiap muslim harus menghindarkan diri dari segala perbuatan syirik.
Ada juga perbuatan lain yang juga merupakan dosa besar tetapi tidak langsung menghapus iman, melainkan hanya dapat merusak iman, yaitu bersikap munafik (nifaq). Nifaq adalah sikap mendua dalam beriman, yaitu lain di mulut lain pula dalam perbuatan. Apabila seorang munafik bertemu dengan orang-orang beriman, ia akan berkata bahwa dirinya adalah orang beriman. Akan tetapi jika ia bertemu dengan orang yang tidak beriman, seorang munafik berkata bahwa dirinya tidak beriman. Sikap munafik merusak iman dan sebab itu dikecam oleh Allah dengan pernyataan-Nya bahwa orang munafik akan dimasukkan ke dalam neraka.

Yang juga berkaitan dengan nifaq adalah fasiq (fisq). Orang yang fasiq adalah orang Islam yang tidak menaati aturan-aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Ia berbuat durhaka kepada Tuhan, berbuat maksiat, melakukan perbuatan dosa, melanggar aturan Tuhan, dan sebagainya.
Perusakan iman dalam bentuk dosa besar adalah segala perbuatan yang melanggar perintah maupun larangan-Nya, misalnya berbuat zina, membunuh orang, makan harta anak yatim, dan durhaka kepada kedua orang tua. Mengenai perbuatan dosa besar seperti itu, ulama sepakat bahwa hal demikian jelas-jelas merusak iman, meskipun belum sampai kepada tingkat menghapus iman. Pelaku dosa besar harus segera meminta ampunan kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan dosanya itu. Oleh karena itu, sikap yang paling baik adalah menghindari semua perbuatan dosa, baik besar maupun kecil. Hal demikian dapat dilakukan apabila seseorang merasa bahwa Allah Yang Maha Esa selalu diyakini hadir dalam dirinya dan mengawasi segala perbuatanya. Inilah yang disebut dengan iman yang fungsional.

Iman yang fungsional juga melahirkan sikap dan kepribadian yang mulia pada diri orang yang bersangkutan, misalnya karena seseorang merasa bahwa Allah selalu hadir dalam dirinya maka ia tidak akan berbuat dusta. Orang yang beriman dengan cara seperti ini memilliki tingkat kejujuran yang tinggi, karena ia yakin bahwa segala perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan selalu mempertimbangkan telebih dahulu segala perbuatannya, sehingga ia menjadi manusia yang bertanggung jawab.

Demikianlah prinsip dasar Islam tentang ketuhanan. Dalam Islam Allah adalah Maha Ada, Maha Esa, dan Maha Kuasa. Tidak ada satupun selain Allah yang dapat menandingi keberadaan-Nya, keesaan-Nya dan kebesaran-Nya. Bagi seorang mukmin atau muslim yang baik, Allah selalu Maha Hadir pada dirinya sehingga mengontrol segala kata dan perbuatannya, serta melahirkan sikap dan kepribadian mulia (akhlaqul karimah).

0 comments:

Post a Comment